Makassar, MataElangtv.com – Di tengah gempuran perubahan tren aksesoris dan penurunan minat masyarakat terhadap batu cincin dan akik, para perajin tradisional di Kota Makassar menghadapi tantangan berat. Salah satunya adalah Trisno, seorang perajin batu cincin asal Madura yang telah mengabdikan diri selama satu dekade di Jalan Tamalate, Tidung, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan ( 31/10/2025).
Trisno mengungkapkan bahwa pasar batu cincin saat ini mengalami penurunan yang signifikan. Selain perubahan selera konsumen, persaingan dari produk-produk modern semakin memperketat ruang gerak para pelaku usaha batu mulia tradisional.
“Penjualan batu cincin dan akik memang sedang lesu. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari perubahan selera konsumen hingga persaingan yang semakin ketat,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya.
Ia menambahkan bahwa dampak ini tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Banyak perajin batu cincin asal Madura lainnya di Makassar juga mengalami situasi serupa. Meskipun demikian, semangat kebersamaan dan gotong royong tetap menjadi pilar utama di antara mereka.
Di tengah tekanan pasar yang menghimpit, Trisno tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas produknya dan terus berinovasi dalam desain. Baginya, kualitas terbaik adalah kunci untuk mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah persaingan yang semakin sengit.
Trisno berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih melalui program pelatihan, peningkatan kompetensi, dan dukungan pemasaran. Bantuan ini akan sangat berarti bagi para perajin tradisional untuk dapat bertahan dan bersaing di era modern ini.
Di tengah gelombang tantangan yang menerpa industri batu cincin tradisional, ketekunan dan optimisme Trisno menjadi cerminan semangat para pelaku usaha lokal yang siap berjuang demi menjaga warisan keahlian yang telah diwariskan turun-temurun. Mereka menantikan uluran tangan yang akan membantu mereka melewati masa sulit ini.
Penulis: Robby Rambi
Editor: Syamsu Alam
